Google+ Followers

Senin, 04 April 2011

Minyak Serai Wangi mencoba menjajah Dunia

Buat sobat-sobat semua bagi yang suka berbisnis Minyak Serai Wangi atauTAtsiri, silakahkan kunjungi kami di blog ini atau langsung ke kami melewati no hp : 081363325405.
Minyak Serai Wangi atau Atsiri merupakan suatu minyak yang sudah tak asing lagi bagi daerah Thailand, kenapa tidak pemasok paling kuat sekarang ini untuk Minyak Serai Wangi adalah negara tersebut terutama Minyak Serai Wangi dan Minyak Nilam.
UntukSumatera Barat pemasok utama untuk Minyak Serai Wangi adalah Kota Sawahlunto Sumatera Barat Indonesia tepatnya Desa Balai Batu Sandaran, sedangkan untuk Minyak Nilam berada pada Kabupaten Pasaman Sumatera Barat Indonesia,  untuk daerah ini sudah menyeluruh masyarakatnya bertani Nilam.

I.            KONDISI UMUM DAERAH :

Desa Balai Batu Sandaran dengan luas 1.295 Hektar berada pada ketinggian 650 meter DPL dengan Topografi Perbukitan serta kemiringan lahan diatas 30 Derajat
Adapun tingkat kesuburan tanah tergolong sedang dan ada juga lahan kritis dengan kondisi sebahagian tanah terbatas.

II.           PROPIL                              
1.      Lahan                    :      
-  Tahun 2003 : 1 Hektar Kebun Demplot dengan sistim tanam tumpang sari 5.500 Rumpun Serai Wangi dan 700   Batang Ylang-ylang ( Kenanga Unggul ) pada lahan yang tergolong Kritis
-  Tahun 2004            : 20 Hektar kebun Skala Operasional
-  Tahun 2006            : 53,5 Hektar kebun Pengembangan
Sehingga luas kebun   : 74.5 hektar.

2.      Produksi           :
Dengan 1 Unit alat suling Volume 5.000 liter, kapasitas 1 Ton Daun Serai sekali suling untuk menampung Daun 30 Hektar Kebun.
                        Produksi 12 – 16 Kg Minyak perhari Penyulingan.
                        Harga minyak Serai Wangi Rp.85.000,- / Kg
                        Faktor pendukung    :
- Motifasi dan partsipasi masyarakat yang cukup tinggi
-  Tersedianya lahan yang memadai
-  Adanya dukungan pemuka masyarakat dan lembaga Desa
-  Ditunjang Pembinaan Pemko Sawahlunto melalui Dinas Pertanian dan Kehutanan.
-  Bimbingan Tekhnologi Puslitbangbun KP. Laing Solok
III.           PERKEMBANGAN KEGIATAN USAHA
               Usaha Atsiri yang merupakan salah satu Alternative usaha ekonomi masyarakat yang berwawasan Konservasi, yang dirasa cocok dengan potensi daerah khususnya di Kota Sawahlunto, dengan binaan Pemerintah Kota Sawahlunto yang bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pengembangan Perkebunan ( Puslitbangbun ), telah dikembangkan tanaman Atsiri berupa Serai Wangi dan Ylang-ylang, sejak tahun 2003 sampai sekarang, berupa kegiatan sebagai berikut      :

a.     Kebun Demplot 1 Hektar.
            Dilaksanakan pada tahun 2003 yang bertujuan untuk penelitian berupa penanaman Serai Wangi sebanyak 5.500 batang dan Ylang-ylang 700 batang.
                        Adapun kesimpulan / hasil penelitian adalah
-     Pertumbuhan tanaman umur 3 bulan dengan anakan 40 – 50 batang / Rumpun tergolong cukup tinggi dan Ylang-ylang juga cukup baik
-     Setelah umur 6 bulan Serai Wangi di panen dan di suling di Solok kemudian dilakukan uji Labor di Puslitbangbun Bogor hasilnya yaitu :
                       
No
Analisa
Kegiatan
Lahan
Demplot
Standar Nasional Indonesia ( SNI )
Ket
1
2


3
4
Produksi Minyak
Kandungan :
-       Citronelal
-       Graniol
Hasil Daun Umur 6 Bulan
Hasil Daun umur 1 Tahun

9,2 Kg / Ton

47,9 %
95,5 %
0,5 Kg
1,5 Kg
7 – 8 Kg / Ton

35 %
80 %


b.   Kebun Skala Operasional 20 Hektar
       Berdasarkan hasil penelitian lahan Demplot tersebut, dengan kesimpulan cukup baik untuk dilanjutkan, maka dibangun lahan baru dengan lahan 20 Hektar.
Adapun waktu pelaksanaannya sebagai berikut                     :
No
Kegiatan
Waktu pelaksanaan
Ket
1
2
3

4
5
6
Penyiapan lahan
Penanaman Serai dan Ylang-ylang
Penyiangan dan pembuatan  pondok Kerja
Pembuatan bangunan penyulingan
Pemasangan Alat Suling
Panen dan penyulingan
September 2004
Nopember 2004
Februari 2005

10 Agustus 2005
12 September 2005
20 September 2005


       Dengan Bimbingan dari Dinas terkait dan Balitro KP. Laing Solok serta dengan semangat dan kerja keras dari masyarakat, sehingga kegiatan tersebut diatas telah terlaksana menurut sebagaimana mestinya, dengan melibatkan tanaga kerja laki-laki dan perempuan.
Sampai dengan tanggal 30 september 2005 berjumlah          :
2.884 HOK ( Harian Orang Kerja ) :  - Bantuan pemerintah Kota = 874       Hok
                                                      - Swadaya masyarakat    = 2.010 Hok

       Usaha dan kerja keras masyarakat tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya Pembinaan dan Bantuan dari Pemerintah Kota Sawahlunto berupa       :
-        Bantuan Biaya tenaga kerja sekitar 30 %
-        Bibit Serai Wangi dan Ylang-ylang
-        Pupuk Buatan
-        Alat Suling Volume 5.000 Liter dan Bangunan Penyulingan
-        Pembinaan tekhnis atas kerjasama dengan Balitro KP. Laing Solok

c.   Hasil Penyulingan
       Setelah terpasang alat suling kapasitas 1 ton, dengan pelaksanaan penyulingan selama ini, maka kesimpulan hasil yang diperoleh          adalah     :
-        1 kali penyulingan membutuhkan waktu : 5 jam, + bongkar muat 2 jam
-        1 ton daun Serai menghasilkan minyak rata-rata : 8 Kg
-        Panen daun Serai Rata-rata = 1,5 Kg
-        Tenaga kerja panen 1 ton daun Serai : 4 HOK
-        Tenaga kerja untuk penyulingan : 2 HOK / Ton
-        Bahan bakar kayu dan daun Serai bekas sulingan : 1 M3 / Ton = Rp.50.000,-
-        Harga penjualan Minyak Serai Wangi berkisar antara Rp. 80.000 –    Rp. 95.000,-
Berfluktuasi sesuai dengan perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar, saat ini harga pasar Rp. 85.000,- / Kg

                        Analisa usaha minimal untuk 1 ton daun Serai      :
-        1 ton daun Serai = 8 Kg minyak, harga @. Rp. 85.000,- ….=Rp.680.000,-
-        Biaya operasional   :
Tenaga kerja panen 4 HOK x RP. 40.000,-                = Rp. 160.000,-
Tenaga kerja penyulingan 2 HOK x Rp. 40.000,-        = Rp. 80.000,-
Bahan bakar kayu 1 M3 x Rp. 75.000,-                     = Rp. 75.000,-
Tenaga kerja penyiangan tanaman 4 HOK                 = Rp. 160.000,-
Biaya umum, Prossesing, Packing   =Rp. 30.000,-..=  Rp. 505.000,-
-        Sisa hasil usaha………………………………………= Rp. 175.000,-

                        Analisa usaha 1 hektar Serai Wangi umur 1 tahun
-        1 Hektar Serai Wangi = 5.500 rumpun x 1,5 kg daun = 8,25 ton daun Serai
8,25 Ton daun x 8 Kg minyak = 66 Kg Minyak Serai
66 Kg Minyak serai x Rp. 85.000,- …………………….= Rp. 5.610.000,-
-        Biaya operasional
Biaya panen 8,25 ton daun x 4 HOk x Rp. 40.000,-                  : Rp.1.320.000,-
Biaya penyulingan 8,25 ton x 2 HOK x Rp. 40.000,-                 : Rp.660.000,-
Bahan bakar kayu 1 M3 x 8,25 Ton x Rp. 75.000,-                    : Rp.618.750,-
Penyiangan 1 hektar = 33 HOK x Rp.40.000,-                          : Rp.1.320.000,-
Biaya umum,Prosesing,Packing dan Pemasaran                     : Rp. 247.500,-
                                           Jumlah ………………………= Rp.4.166.250,-
-        Sisa hasil usaha ………………………………………..= Rp.1.443.750,-
-        Penyerapan tenaga kerja = 80 HOK
-        Panen Serai tiap 3 bulan, Rata-rata SHU per bulan = Rp.481.250,-

d.   Kebun Pengembangan 53,5 Hektar
       Usaha Atsiri dengan tanaman Serai Wangi dan Ylang-ylang yang telah dirintis oleh masyarakat dengan telah menghasilkan minyak Serai Wangi, hal ini telah diapresiasi positif oleh masyarakat yang menimbulkan Motifasi untuk turut serta secara aktif dalam pengembangan usaha budidaya Serai Wangi.
       Pemerintah Kota Sawahlunto, melalui Dinas Pertanianan dan Kehutanan mencurahkan perhatian yang besar untuk Pengembangan usaha ini berupa Program dengan rincian sebagai berikut      :
-        Bantuan Bibit Serai wangi dan ylang-ylang
-        Penunjang biaya persiapan lahan 30 %
-        Pupuk Buatan
-        Pembinaan dan Penyuluhan tekhnis dengan Balitro Kp. Laing Solok.
      
       Sistim kebun pengembangan adalah dilahan masing-masing anggota dengan luas minimal 0,5 hektar, anggota berjumlah 54 orang, sehingga luas kebun pengembangan 53,5 hektar.
      
e.   Pemasaran.
       Dengan kondisi saat ini dimana Produksi Minyak kita belum memadai, Pemasaran kita lakukan dengan menyediakan Stok Minyak, kemudian dijual kepada pembeli yang menawar dengan harga tertingi, rata-rata 120 – 150 Kg / bulan, juga melayani pembeli perorangan dengan kemasan perbotol isi 120 Ml Rp. 20.000,- / Botol
Agar supaya kita jangan dipermainkan atau diperalat oleh pedagang, sehingga pemberdayaan petani harus diwujudkan, dimana petani berada diposisi tawar yang sejajar dengan Eksportir / Pedagang.
Demukian juga Standar mutu dan kualitas adalah yang harus tetap terjaga mulai dari Budidaya, Prosesing dan Packing.
Dalam hal ini dibutuhkan persamaan persepsi dan keterpaduan antara petani/masyarakat dan Pemerintah Kota dalam menghadapi pasar.
    
IV.           KENDALA YANG DIHADAPI
a.    Jarak kebun pengembangan yang berpencar di lahan masyarakat mengakibatkan kesulitan transportasi hasil panen dan menambah biaya produksi.
b.    1 ( Satu ) Unit alat suling yang ada belum bisa mengolah hasil kebun Serai yang ada, hanya bisa mengolah hasil panen 30 Ha.
c.    Bahan bakar kayu sangat berpengaruh kepada hasil Produksi yaitu          :
-        Tingkat Kekeringan kayu
-        Kesulitan pengambilan kayu api memperbesar biaya Produksi
-        Penebangan kayu terus menerus untuk bahan bakar penyulingan akan berdampak Negative kepada lingkungan hutan di Desa.
d.    Kelompok masih kesulitan modal operasional dalam perawatan alat dan menstok minyak pada saat harga turun.
e.    45 Hektar lahan yang siap panen daun Serai Wangi belum adanya alat suling.

                   KEBUTUHAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA
1.   Pengadaan alat suling kapasitas 5.000 liter atau 1 ton daun sekali suling yang bahan bakarnya bukan dari kayu api, melainkan dengan Batu Bara atau Gas LPG.
2.   Bantuan modal Operasional dengan bunga Ringan
3.   Pembinaan untuk peningkatan manajemen pengelolaan usaha.


      Pada dasarnya masyarakat Sawahlunto memang berkeinginan kuat untuk menjadikan Kota Sawahlunto sebagai Daerah Sentra Produksi Minyak Atsiri di Sumatera Barat, yang merupakan salah satu usaha ekonomi kerakyatan dalam upaya menanggulangi Kemiskinan, dengan harapan sekaligus juga sebagai PRODUK UNGGULAN dan KEBANGGAAN DAERAH.
Tidak hanya memproduksi Minyak Serai Wangi tetapi juga Minyak Ylang-Ylang, Nilam, Kayu putih dan lain-lain.

      Keinginan kami ini sudah mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Sawahlunto, namun dukungan baik dari Pemerintah Propinsi, pemerintah Pusat dan swasta, sangat kami harapkan.


0 komentar:

Poskan Komentar

Mobri Galery

Mobri Galery
Mobri Pansi & Istri

Apa Pendapat Anda Tentang Blog Ini?